•   Thursday, 13 Aug, 2020
  • Contact

Ani Hasibuan: Habib Rizieq yang Saya Kenal

Tahun 1999 Akhir.
Saya Masih Muda Belia. Ditugaskan Di Anyer, Serang. Waktu itu masih Jawa Barat sbagai Kepala Puskesmas di salah satu Kecamatan di sana.

Dalam kapasitas sebagai Kepala Puskesmas, saya membuat semacam tour of duty. Di lingkup Puskesmas. Sehingga, setiap petugas mendapat pengalaman bekerja di berbagai divisi. Termasuk saya yang Sabang Rabu ambil jatah dinas di Balai Pengobatan.

Saya, waktu itu, mengawali debut saya di PKM (Pengabdian Kepada Masyarakat)  dengan melakukan penyuluhan kesehatan reproduksi.

Saban Rabu, Balai Pengobatan PKM kami wanita-wanita (saya gak mau bilang mereka gadis-gadis). Yang, Astaghfirullah, mengeluhkan gangguan kelamin alias STD
 (Sexually Transmitted Disease).

Well, saya harus mahfum. Sebab, wilayah wisata, meski saya tak bisa klaim ini general, memang masih banyak menyediakan layanan prostitusi alias pekerja seks komersial (PSK).

Namun, yang membuat sesak dada saya adalah tamu-tamu saya itu masih muda belia, umur belasan tahun. Yang datang dengan gonorrhea dan chlamyda (sebagian besar).

Waktu itulah, saya mengenal yang namanya "transaksi memxk" (maaf). Yakni, seorang gadis muda menjual dirinya sebagai pekerja seks dengan imbalan narkoba. Sedih. Saya menangis, waktu itu.

Sebagai mantan reporter Media Aesculapius selama bersekolah di FKUI, jiwa investigasi saya muncul.

Dan..., saya kemudian temui fakta ini: bahwa di awal, ABG2 ini masih sekolah di SD atau SMP, ditawari oleh bandar untuk mencicipi narkoba (putauw atau heroin) secara gratis.

Lama kelamaan, ketika mereka mulai ketagihan, mereka tak bisa lagi mendapatkan secara gratis.
Mereka harus bayar. Sementara harganya semakin naik. Mereka pun tak mampu membelinya.
Karena (pinjam istilah teman saya yang merasa kaya), mereka orang miskin.

Apa yang kemudian terjadi? Mereka ditawari jadi PSK alias pelacur anak-anak, dengan imbalan berupa narkoba (putauw) yang mereka perlukan.

Mendadak, dada terasa sesak. Saya menangis...., mengetahui fakta itu.
Saya mulai mendatangi pengajian ibu-ibu mingguan, bapak Lurak dan pak Camat, Pak Danramil, Pak Kapolsek, mengadu. Ini musti diapakan?

Tapi, apa lacur? Si pemilik klub yang mempekerjakan adik-adik ABG ini terlalu kuat. Tak ada yang bisa menghentikannya.

Makin hari, penderitaan makin bertambah. Lebih berat daripada kisah orang Lebak di jaman VOC (seperti yang saya baca di Max Havelaar karangan Multatuli). Saya hanya bisa mengiris hati, saat itu.

 Sampai suatu hari, saya melihat puluhan lelaki bergamis putih dan bersorban datang terburu-buru ke klub itu. Mereka berdiskusi sesuatu dengan pengelola klub.

Dan, tiba-tiba, “BBHUAAAR....." Klub dibakar. Setelah rata dengan tanah, lelaki bergamis itu kemudian pergi.
Belakangan, saya tahu bahwa lelaki bergamis putih yang memimpin aksi itu adalah Habib Rizieq. Belia masih muda saat itu.

Klub itu sempat dibakar tiga kali. Setelah dibangun lagi oleh yang punya, dua kali lagi pasca pembakaran. Lokasi itu kemudian rata dengan tanah. Dan, tinggal seonggok saung. Yang biasa dipakai untuk melihat sunset di sore hari di Pulau Sangiang yang misterius.

Beberapa saat, pasca pembakaran, saya dengan Habib ditembak. Mobilnya ditembus peluru, beberapa lobang. Alhamdulillah, beliau selamat.

Sejak saat itu, saya simpati pada Habib Rizieq. Serta siapa pun pria bergamis dan bersorban yang mengikuti jalan beliau.

Mereka adalah pejuang kebenaran. Beliau menyelamatkan gadis-gadis kami. Dari perkosaan dan penistaan yang biadab. Yang dilakukan oleh orang-orang dewasa yang berakal dan sadar.

Sampai detik ini, kejadian pembakaran klub maksiat itu masih terus terbayang. Dan, saya masih ingat, saat gadis-gadis menderita dieksploitasi lahir batin, ada seorang lelaki berani mati yang menyelamatkan mereka.

Menghentikan kezaliman bukan hal yang mudah. Dibutuhkan keberanian dan keikhlasan yang luar biasa. Dan, Habib Rizieq melakukan hal itu.

Ada yang bilang, Habis takut dipenjara. Takut sama polisi? Saya cuma tertawa. Mati saja beliau berani. Dan, itu sudah beliau buktikan Beratus kali...!

Apakah Habib berambisi jadi penguasa? Alhamdulillah. Teman tidur saya (mantan tetangga Habib dulu di Petamburan) cerita bahwa di Habib ini anak SMP Bethel. Kalau Jumat jualan parfum dan peci di masjid. Rumahnya selalu dipakai untuk pengajian. Beliau tidak tertarik dengan kekuasaan.

Saya cerita ini, bukan supaya kamu-kamu yang anti Habib terus jadi senang sama Habib. Bukaan.....

Hanya kamu-kamu, kalau punya akal dan (merasa) sekolah tinggi, kalau benci dan mau fitnah, ya kira-kira lah. Jangan asal...!

Sebagai closing, Habib itu gak perlu selingkuh untuk dapat perempuan. Islam menghalalkan poligami. Dan, perempuan yang mau dinikahi Habib juga banyak. Ngapain repot-repot bikin dosa?

Yang mau fitnah, mikirlah pakai akal. Dah. Gitu aja....!


Di-Copy dan edit dari tulisan :
By Ani Hasibuan, Neurologist.

Related News

Comment (0)

Comment as: