•   Wednesday, 20 Mar, 2019
  • Contact

Gunung Anak Krakatau dan Tsunami Selat Sunda

Bagaimana Gunung Anak Krakatau lahir dan tumbuh besar? Erupsinya diduga menyebabkan tsunami di Selat Sunda.
_______________________________________
Hendri F. Isnaeni
_______________________________________

PADA suatu sore, 29 Juni 1927, hampir 44 tahun berlalu dari letusan dahsyat induknya, Gunung Krakatau. Nelayan yang tengah menarik jaring setelah seharian mengayuh perahu, menyaksikan sesuatu yang luar biasa dan tidak terduga.

Dengan bergemuruh, gelombang-gelombang gas yang sangat besar mendadak menyembul ke permukaan laut. Gelembung-gelembung itu dengan kombinasi yang aneh dan acak, muncul di mana-mana, mengelilingi perahu. Nelayan itu kebingungan dan ketakutan. Gelembung-gelembung itu meledak, menyemburkan abu dan gas belerang yang berbau busuk.

Gelembung-gelembung itu, menurut jurnalis Simon Winchester dalam Krakatau: Ketika Dunia Meledak, 27 Agustus 1883, merupakan indikasi pertama di permukaan bahwa sebuah gunung berapi baru yang mengintai jauh di dasar laut tengah berusaha membangun dirinya.

Pertumbuhannya begitu cepat dan aktivitasnya berubah. Selain gelembung-gelembung yang menjadi lebih ganas, bermunculan juga buih hitam, uap, batu, bahkan nyala api. Akhirnya, pada 26 Januari 1928, volume gelembung dan nyala api berubah menjadi abu dan batu solid, serta muncul ke permukaan: sebuah lapisan tipis daratan baru berbentuk kurva tampak untuk pertama kalinya di atas permukaan laut. Daratan baru itu tumbuh, hitam dan seperti sabit, sampai akhirnya membentuk sebuah pulau.

Jumlah ledakannya semakin besar. Pada 3 Februari 1928 tak kurang dari 11.791 ledakan selama 24 jam. Bahkan angkanya bertambah pada 25 Juni 1928 mencapai 14.269 ledakan atau sekitar sepuluh ledakan per menit selama sehari semalam.

Gunung Anak Krakatau berumur sekitar dua tahun pada Mei 1929. (W.G.N. van der Sleen/Tropenmuseum).

Peneliti pertama yang mengamati kelahiran gunung baru itu adalah ahli geofisika asal Rusia, W.A. Petroeschevsky. Belakangan dia sampai membangun sebuah bunker dari beton cor dan besi di Pulau Panjang untuk mengamati aktivitas gunung baru itu.

“Dia memberinya nama yang sampai sekarang masih terus melekat: Anak Krakatau,” tulis Simon.

Menurut Simon pos pengamatan yang dibangun Petroeschevsky terbukti amat berharga untuk memantau perkembangan Anak Krakatau: tumbuh dari bayi setinggi 20 kaki dan sepanjang setengah mil, mulai hidup pada 1930, menjadi puncak setinggi 500 kaki dan sepanjang satu mil dan selebar satu mil pada 1950, dan sekarang menjadi pulau monster setinggi 1.500 kaki dan berkawah dua.

Di peta-peta kawasan itu, lanjut Simon, para hidrografer dari berbagai angkatan laut mengubah tanda pulau itu dari titik-titik “biru” yang berarti “baru, sementara, dan tidak pasti” menjadi “hitam legam” yang berarti “mapan, permanen, dan sudah menetap.”

“Dari dulu ia adalah gunung berapi yang luar biasa aktif, yang tumbuh dengan cepat dan tak terhentikan sejak kelahirannya,” tulis Simon.
Erupsi setiap hari

91 tahun kemudian dari munculnya tanda-tanda kelahirannya, Anak Krakatau melakukan erupsi setiap hari sejak 29 Juni 2018. Aktivitas erupsi itu diduga menjadi penyebab tsunami di Selat Sunda pada Sabtu malam, 22 Desember 2018 pukul 21.27 WIB. Tsunami itu menerjang pesisir tiga wilayah: Pandeglang, Serang, dan Lampung Selatan.

Melalui akun twitter-nya, @Sutopo_PN, Sutopo Purwo Nugroho, kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, menyampaikan bahwa tsunami di Selat Sunda termasuk langka. Letusan Gunung Anak Krakatau juga tidak besar. Tremor menerus namun tidak ada frekuensi tinggi yang mencurigakan. Tidak ada gempa yang memicu tsunami saat itu. Itulah sulitnya menentukan penyebab tsunami di awal kejadian.

Meskipun demikian, Sutopo menyebut bahwa “penyebab tsunami di Pandeglang dan Lampung Selatan kemungkinan kombinasi dari longsor bawah laut akibat pengaruh erupsi Gunung Anak Krakatau dan gelombang pasang saat purnama.”

Dalam konferensi pers pada 24 Desember 2018, Dwikorita Karnawati, kepala BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) menyampaikan bahwa tsunami Selat Sunda tak lazim dan kompleks. Pemicunya adalah erupsi Gunung Anak Krakatau yang mengakibatkan kepundan (kawah gunung berapi) kolaps sehingga terjadi longsor bawah laut di bagian barat daya. Penghitungan sementara longsoran itu seluas 64 hektar. Tremor vulkanik setara magnitudo 3,4 yang diperparah oleh curah hujan yang tinggi dan gelombang pasang.

Dampak tsunami di Selat Sunda per 25 Desember 2018 tercatat 429 orang meninggal, 1.485 orang luka-luka, 154 orang hilang, dan 16.082 orang mengungsi. Kerusakan fisik sebanyak 882 rumah, 73 penginapan, 60 warung, 434 perahu dan kapal, 24 kendaraan roda empat, 41 kendaraan roda dua, satu dermaga, dan satu shelter rusak.

Tulisan ini diperbarui pada 25 Desember 2018.

Sumber: www.historia.id

Related News

Comment (0)

Comment as: