•   Thursday, 20 Sep, 2018
  • Contact

Mengistirahatkan Logika

Oleh: Tofan Mahdi
(praktisi komunikasi)

Pernah-kah teman-teman mengalami peristiwa-peristiwa seperti ini, baik di dalam kehidupan pekerjaan maupun bisnis (usaha)? Sudah merasa memberikan yang terbaik, semua target achieved, penyelesaian sebuah pekerjaan telah dilakukan dengan presisi, hingga banjir aplaus di sana-sini. Dan itu kita capai bukan sekali, tetapi berkali-kali. Namun ketika pada satu titik bersaing untuk meraih jabatan yang lebih tinggi, kita tidak terpilih. Kita kalah oleh rekan kerja yang, menurut penilaian kita, biasa-biasa saja. Tidak lebih baik dari kita.

Ataukah, ketika kita sedang mengikuti tender sebuah proyek yang nilainya cukup besar, kita sudah memberikan penawaran terbaik, cukup pengalaman menangani pekerjaan yang sama, tim juga solid, pun kita memiliki hubungan yang baik dengan key person yang membiayai proyek. Namun, pada saat pemenang tender diumumkan, ternyata bukan kita pemenangnya, tetapi perusahaan lain yang menurut kita masih anak bawang dan belum pernah menangani proyek yang sama.

Saya sendiri pernah mengalami hal-hal tadi. Jika demikian, apakah berarti kita sudah tidak mumpuni lagi? Jawabannya: BUKAN.

Kegagalan dalam sebuah tahapan bisnis atau pekerjaan, pada saat kita sudah berusaha dengan maksimal, hanyalah sekadar alarm atau peringatan. Alarm apa? Alarm yang mengingatkan bahwa ketika kita menghadapi unexpected situation seperti di atas, berarti saatnya kita mulai mengistirahatkan logika. Mengistirahatkan akal dan pikiran kita. Gak mikir dong? Bukan demikian. Tetapi kita sampai pada suatu titik untuk menyadari bahwa sebagian besar yang terjadi pada kita pada kehidupan di dunia ini, di luar kendali kita. Rasio, akal, atau logika, mungkin membantu mencapai setiap kesuksesan di dalam hidup. Tetapi, percayalah, itu tidak lebih dari 10 persen. Sedangkan 90% sisanya adalah datang dari sikap tawakal, pasrah, dan percaya bahwa Allah SWT lah yang berhak menentukan mana yang baik dan pantas buat kita.

Di dalam keyakinan agama Islam, manusia (orang yang beriman) hanya diminta dua hal dalam menghadapi unexpected condition (di dalam Al Quran disebut musibah) dalam mengarungi kehidupan di dunia ini: sabar dan shalat. Karena sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.

Manusia pada dasarnya selalu memiliki ketakutan dalam hidup ini: takut lapar, takut miskin, hingga takut pada kematian (jiwa). Maka akan diberikan kabar gembira bagi orang-orang yang sabar (wabasyiri shabirin). Siapakah orang-orang yang sabar itu? "Yaitu orang-orang yang ketika tertimpa musibah, mereka mengatakan Innalilahi waina ilaihi rojiun/ dari Allah kami datang dan kepada Allah juga kami akan kembali." (QS Al Baqarah 156)

Ada beberapa ayat lain di dalam Al Quran, yang menegaskan pentingnya sabar. Misalnya di dalam Surah Al Ashr di mana difirmankan bahwa semua manusia dalam keadaan merugi kecuali empat golongan, yaitu: orang-orang yang beriman, berbuat amal sholeh, dan mereka yang saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran.

Terlalu logis di dalam menjalani hidup ini membuat kita menjadi grusa-grusu, tidak sabaran, jiwa tidak tenang, dan hasil yang dicapai pun tidak sesuai harapan. Tetapi jika logika kita tempatkan di bawah sikap pasrah dan tawakal, tentu saja setelah semua ikhtiar terbaik dilakukan, seringkali hasilnya bisa mengejutkan. Beyond ekspektasi kita.

Saya sendiri mulai mengamati (diam-diam tentu saja) orang-orang sekitar yang menurut saya sukses. Baik dalam karir pekerjaan, bisnis, maupun kehidupan pribadi. Mereka semua adalah orang-orang yang pintar (logis) itu pasti. Tetapi para sahabat sukses tadi juga adalah orang-orang hebat yang telah dikaruniai "pikiran tuwo" (bijak). Mengejar dunia iya, tetapi orientasinya akhirat. Dalam pekerjaan, mereka tampak bersahaja, tenang, tidak grusa-grusu. Tetapi kita dialog dan ngobrol berdua, barulah kita tahu kualitas dia yang sesungguhnya. Baik dalam hal knowledge terkait bisnis dan pekerjaan, maupun hakikat mereka menjalani hidup ini.

Saya sendiri bagaimana? Hehehe. Jelas masih jauh dari teman-teman yang sukses tadi. Hidupnya masih grusa-grusu, ambisius, pengin dipuji orang, rada arogan, reaktif, tetapi InsyaAllah baik hati wkwkwkwk.

Saya belum mencapai tahap sabar sebagaimana seharusnya sabar. Tetapi saya bersyukur mulai mau belajar menjadi lebih baik dan belajar memahami bagaimana seharusnya hidup ini dijalani.

Pada hari yang penuh barokah tepat pada Hari Raya Idul Qurban 1439 H, dari ketinggian 33 ribu kaki di atas permukaan laut dalam perjalanan dari Surabaya ke kampung halaman di Jakarta (eh kebalik), saya mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha. Salam sukses barokah buat teman-teman semua. ([email protected])

Related News

Comment (0)

Comment as: