•   Wednesday, 20 Feb, 2019
  • Contact

Nasaruddin Umar Cawapres Jokowi

Oleh: Ariyono Lestari

JAKARTA, VOI-- Di tengah gegap gempitanya pertemuan Prabowo - SBY malam ini, berhembus kencang berita dari Kandang Banteng: Jokowi sudah memutuskan cawapresnya.

Beberapa ketum partai pendukung pemerintah, seperti PPP, PKB, Hanura, Nasdem, dan Partai Golkar sejak awal sudah mengeluarkan clue tentang siapa Cawapres Jokowi.

Romahurmuzy, ketum PPP, misalnya, pagi-pagi sudah mengatakan bahwa cawapres Jokowi sudah fix. "Sudah di kantong pak Jokowi. Namanya di luar dugaan banyak orang," kata Romy.

Muhaimin Iskandar, Ketum PKB, beda lagi komentarnya. Keponakan Gus Dur yang oleh kalangan Nahdliyyin dicap sebagai pengkhianat itu awalnya ngotot dan super pede untuk "melamar" menjadi cawapres Jokowi.
.
Cak Imin, sapaan akrabnya, bahkan sudah pasang baliho besar-besaran di  jalan-jalan strategis di beberapa kota di Indonesia. Saking pedenya, cak Imin bahkan berkomentar, "Kalau bukan saya cawapresnya, Jokowi tidak akan menang." Banyak yang mentertawakan.

Tetapi, belakangan cak Imin akhirnya menyerah juga. Dia menyerahkan cawapres kepada Jokowi. Rupanya, sandera kasus sebagaimana diungkapkan beberapa akun di tweeter mulai membuatnya gemetar.

Bocornya nama Nasaruddin Umar nampaknya juga sudah tercium sampai ke Tengku Umar. Sebab, beberapa hari terakhir, Mahfud MD dan KH Ma'ruf Amien yang sebenarnya sudah lempar handuk, mendadak bersemangat lagi.

KH Ma'ruf Amien, misalnya, yang sebelumnya menegaskan ketidakbersediaannya menjadi cawapres Jokowi karena merasa sudah terlalu tua, tiba menyatakan kesediaannya. Mahfud MD pun mendadak kampanye ke para kiai NU sudah disahkan sebagai orang NU.

Semua yang serba mendadak itu rupanya sebuah kesengajaan untuk menutupi sesuatu: pemilihan Nasaruddin Umar yang terlanjur bocor

Namun, kebocoran info top secret itu rupanya sudah tidak bisa dibendung lagi. Sumber di lingkaran dalam kandang banteng menyebutkan: Nasaruddin Umar sudah pasti cawapres Jokowi.

Nasaruddin Umar, ketika ditanya Jokowi tentang kesediaannya menjadi cawapres, menjawab dengan kalimat bersayap, "Masih banyak yang lebih baik dari saya, tapi kalau diberi amanah, saya tidak berani menolak.

 Apakah istikharah imam besar masjid Istiqlal itu sudah memperoleh jawaban dari langit? Hanya Allah SWT dan mantan Wakil Menteri Agama itu yang tahu. Kita tunggu babak berikutnya dari Kisah Sandyakalaning Jalan Tengku Umar.

Yang jelas, penunjukan Nasaruddin Umar sebagai cawapres Jokowi ini punya tujuan. Sebagai salah satu pendukung gerakan 212, rupanya istana berharap kesediaan Nasaruddin Umar akan memecah soliditas alumni 212.

Tetapi, Jokowi agaknya lupa bahwa para pimpinan gerakan 212 sudah memutuskan: tidak mendukung Jokowi adalah harga mati. "Bahkan kalau Habis Rizieq berbalik mendukung Jokowi akan kami libas." Nah, makin seru kan?

Related News

Comment (0)

Comment as: