Duet Maut Sang Jenderal (1)


 
 
TERUS-TERANG saya tidak dapat membayangkan, bagaimana jika Prabowo Subianto (PAS) dan SBY benar-benar bertandem untuk memenangkan Pilpres. Lebih-lebih di basis wong Jowo, yakni di DI Yogjakarta.
_________________________________________
OLEH: MOCH. TAUFIQ *)
_________________________________________
Sebab, warga Yogjakarta dan sekitarnya --lebih-lebih di kalangan generasi tuanya-- masih memiliki memori kuat bersama Pak Harto. Tak heran jika Titiek Soeharto memiliki basis massa yang kuat di sana.


Memang acara tersebut baru akan digelar akhir bulan ini. Namun, saya sangat yakin bahwa kabar 'Duet Maut Sang Jenderal'  tersebut banyak mempengaruhi peta perpolitikan, khususnya di Jawa.

Saya menyarankan agar timses Prabowo-Sandi (PADI) menjadikan momentum itu sebagai pilar yang paling kokoh untuk menaklukkan petahana di Jawa. Bukankah jika menang di Jawa, berarti tiket RI 1 sudah berada di tangan.

Agar momentum itu benar-benar menghebat, kubu PADI wajib mem-branding event itu secara serius. Bikinlah run-news  setiap hari terkait acara tersebut. Intinya, kebersamaan PAS dan SBY harus di-maintenance sedemikian rupa. Gaungnya harus benar-benar meledak. Bukan cuma 'mak-nyus' saja.

Jika terjadi 'ledakan dahsyat', tentu akan melahirkan getaran tersendiri di luar Jawa. Dan, persepsi positif itu harus senantiasa dijaga hingga 17 April mendatang. Pemukulan gong persepsi positif secara simbolis di seluruh negeri tersebut, bisa dimulai dari kehadiran PS dan SBY di Yogjakarta itulah.

Di sisi lain, saya sangat meyakini 'tangan ajaib' turut membantu kenaikan elektabilitas PADI. Kenapa saya sebut 'tangan ajaib', ya semata-mata hadir secara tiba-tiba saja. Boleh dibilang nyaris di luar penalaran.

Bagi saya, Sang Penguasa Langit dan Bumi inilah yang menurunkan 'tangan ajaib' tersebut. Banyak blunder yang dilakukan kubu petahana, ya disebabkan oleh kehadiran 'tangan ajaib' tadi. Karena ajaib, tentu peristiwanya tidak bisa dielakkan oleh siapa pun, termasuk oleh presiden.
 
LEMAH TANPA MEDIA
Terus-terang saya melihat banyak orang-orang pintar di timses PADI. Namun, ketiadaan media  massa yang dimiliki PADI sebagai corong resminya, menjadikan PADI keteteran dalam pembentukan dan penggiringan opini sesuai yang diharapkan.

PADI sangat beruntung kini memiliki jutaan relawan yang militan. Banyak di antara mereka yang supernekat. Salah satu buktinya bisa dilihat langsung di masing-masing medsos yang mereka miliki. Dan, inilah amunisi paling dahsyat yang menjadikan PADI kini makin populer di semua lapisan masyarakat

Bagi saya, jika petahana mempunyai banyak pendukung yang supernekat adalah hal yang biasa. Namun, kalau oposisi mempunyai jutaan orang relawan yang sangat militan --sebagaimana yang kini dimiliki PADI-- adalah sesuatu yang menakjubkan. Lebih-lebih jika mereka bergerak tanpa pamrih dan harus keluar uang sendiri.

Kemarin saya sempat teleponan dengan seorang relawan PADI di Surabaya. Kebetulan dia menjadi ketua panitia diskusi/dialog bersama Sandiaga Uno di Kota pahlawan.

"Kami harus patungan sendiri Mas Taufiq untuk menggelar acaranya Mas Sandi. Semua biayanya benar-benar dari kantong kami. Kalau pun nanti ada simpatisan yang datang dan mengisi kas, ya alhamdulillah," jelasnya.

Saya sendiri pernah mencoba untuk membantu perjuangan PADI dengan membikin tabloid PAS, atau portal berita PAS. Namun, rencana tersebut --yang beberapa kali saya diskusikan bersama 2 orang kawan-- ya, tinggal rencana saja. Sebab, kami belum menemukan donatur yang mempunyai idealisme yang sama.

Kalau pun ada yang saya taksir sebagai penyandang dananya, eh...malah menghindar. Pengalaman ini membuat saya jadi teringat ucapan seorang kawan lama yang juga berdomisili di Surabaya.

 "Susah, kan Mas untuk cari sponsor?" katanya, pada suatu siang di sebuah kafe. Pertemuan ini terjadi 2 bulan yang lalu, tepatnya menjelang kami berdua merencanakan shalat Jumat bersama-sama.

Saya mengangguk. "Karena bos-bos itu berpikir simpel saja, bahwa petahana pasti menang. Artinya, mereka lebih berani support kubu petahana, ketimbang oposisi," sambung dia, serius.

'Lha, kamu sendiri pilih siapa?" tanya saya.

"Walaaaaaah, Mas... saya pilih yang pasti menang saja," jawabnya, spontan sambil tertawa kecil.

Saya merasa beruntung, karena dia tidak balik bertanya,"Kalau sampeyan akan mencoblos siapa, Mas Taufiq?"

Bagi saya, pilihan dalam mencoblos Capres-Cawapres jangan sampai mencederai persahabatan atau persaudaraan.  Jadi, saya tak perlu menjelaskan atau gembar-gembor tentang Capres-Cawapres yang saya idolakan. Setelah membaca catatan kecil ini, saya sangat yakin Anda mampu menebaknya secara tepat !  ###

*) Penulis adalah wartawan senior, tinggal di Sidoarjo, Jawa Timur.

Related News

Comment (0)

Comment as: