Pasca SBY-Prabowo: Mana Dulu Telor dan Ayam?

SEIRING pertemuan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan Prabowo Subianto Jumat lalu, 21/12/2018, banyak hal menarik diulas. Keduanya sama-sama Ketum partai utama di Tanah Air, Partai Demokrat dan Partai Gerindra. Yang satu mantan Presiden dua periode, dua kali memenangkan pilpres langsung. Satunya lagi Capres yang 17 April tahun depan ditentukan nasib politiknya, apakah takluk di tangan petahana atau mencatat sejarah baru Presiden RI Ke-8—uppps mungkin seperti kebetulan bertepatan dengan angka keramat 08 Prabowo sendiri.

Tulisan sempat tertunda, terlebih setelah tanpa disangka-sangka terjadinya bencana alam Tsunami di Banten dan Lampung. Saya tergolong penulis yang tidak bisa fokus menulis di tengah-tengah situasi tragis jatuhnya ratusan korban nyawa yang memilukan seluruh keluarga dan Negeri ini. Innalillahi wa inna ilayhi rojiun…

Pertemuan di Mega Kuningan ini terdiri dari dua sesi, ada yang terbatas SBY-Prabowo disusul Agus Harimurti Yudhoyono, dan sesi yang diikuti petinggi PD mendampingi SBY dan petinggi Badan Pemenangan Prabowo-Sandi mendampingi  Capres Prabowo. Secara substansi, tampaknya tidak ada perbedaan signifikan, kecuali penguatan paparan strategi dan penegasan rencana aksi semata.
Cawapres Sandiaga Uno tidak hadir karena bersamaan waktunya dengan jadwal keliling Tanah Air Sandiaga menyapa dan bersosialisasi dengan masyarakat luas di daerah-daerah.

Saya mencatat beberapa hal menarik dicermati dari pertemuan kedua pemimpin selama dua jam lebih di kediaman SBY itu.
Pertama, SBY mengatakan, jelang Pemilihan Legislatif dan Pemilu Presiden 2019 mendatang, dirinya akan lebih sering turun ke lapangan untuk mengkampanyekan Prabowo-Sandi. SBY mengakui selama ini dirinya dan jajarannya fokus pada Pemilu Legislatif agar suara PD naik pada Pemilu 2019. Jadi Januari-April, pamungkasnya pada Maret,  SBY mengisyaratkan fight untuk membantu Prabowo-Sandi menaikkan popularitas dan elektabilitas sehingga sukses memenangkan Pilpres.

Jadi selama 3-4 bulan pertama lalu, SBY dan PD fokus hanya untuk kampanye Pileg, mendongkrak elektabilitas para caleg PD agar melampaui perolehan Pileg 2014 atau melewati  target  2019 mencapai 15 persen suara. Sisa masa kampanye bulan Januari-April mendatang, SBY mengintrodusir istilah Strategi Kembar , Double Track Strategy. Maksudnya, menarget perolehan suara Demokrat lebih tinggi dari 2014, dan Prabowo-Sandi menjadi Presiden dan Wapres lima tahun ke depan.

Hubungan SBY-Prabowo sebelum ini sempat  vakum 3 bulan karena kesibukan masing-masing, kendati Demokrat sudah ikut meneken dukungan formal mengusung Capres 02 bersama koalisi Gerindra, PKS, PAN, Berkarya.  Sempat pula, di tengah kevakuman itu, polemik beredar. Di satu sisi muncul keraguan komitmen Demokrat terhadap Prabowo-Sandi, dianggap setengah hati mendukung Paslon 02.  Sempat muncul anggapan SBY, AHY disayangkan  tidak allout dalam rapat pemenangan dan absen dalam setiap kampanye keliling Prabowo dan Sandiaga ke daerah-daerah. Sebagai catatan, sebenarnya ini tidak eksklusif Demokrat, karena ketiga anggota koalisi lainnya juga belum intensif dan jor-joran mempromosikan Prabowo-Sandiaga di konstituen masing-masing.

Tetapi penjelasan SBY  di atas tadi, tampaknya mau meredakan anggapan setengah hati tadi. Bukan setengah-setengah  namun adalah strategi PD sendiri untuk di 4 bulan pertama kemarin fokus ke kampanye partai dan para caleg nya.

Kini para pendukung Paslon 02 menunggu realisasi komitmen terjun lapangan SBY, AHY, dan Demokrat mengampanyekan juga Prabowo-Sandiaga di bulan Januari-April mendatang.  Ini adalah pertarungan terakhir. Episoda hidup-mati, menentukan menang-kalahnya Prabowo-Sandiaga menghadapi Joko Widodo n- Makruf Amin.

Pengamat mencermati Prabowo-Sandi unggul di Jawa Barat dan Sumatera. Sedangkan Jokowi-Makruf teratas di Jawa Tengah dan Sulawesi. Di area-area lain, masih tempur bebas dan berimbang. Disebutkan juga DKI Jakarta dan Banten menjadi arena panas perebutan pengaruh ketat antara kedua Paslon.

Jika selama 3-4 bulan pertama SBY, AHY, Demokrat fokus pada Pileg, di semester akhir nanti bakal dilakukan Double Track Strategy atau Strategi Kembar. Banyak pihak merasa masih belum terang penjlentrehan detail konsep strategi ini.  Apakah SBY dan AHY utamanya terjun dalam satu safari ke daerah-daerah dan sepanggung kampanye dengan Prabowo-Sandi? Ataukah tetap berjalan terpisah, di mana selama kampanye Pileg nya, SBY, AHY, Demokrat juga mengkampanyekan Paslon 02?


Apakah itu berarti strategi simultan. Atau mana yang lebih didahulukan Demokrat, Pileg ataukah Pilpres, mirip dengan mana yang lebih dulu ayam atau telur? Apakah titik tekanan strategi yang satu bakal mensubordinasi strategi lainnya?  Apakah strategi serentak bersamaan Pileg dan Pilpres memang harus terpisah, tak mungkin dibikin berbarengan?

Suara publik yang penulis tangkap di lapangan-- sebagai akademis saya beberapa kali terjun ke lapangan kampanye Sandiaga Uno—berharap AHY-Sandi blusukan bersama, safari bareng.  Atau, istilah khas AHY, gerilya bareng. Misalnya AHY kampanye di suatu kabupaten di Jawa Tengah, diatur sedemikian rupa Sandi datang bergabung dan mereka kampanye bersama.  Saya sengaja mengambil contoh Jawa Tengah, karena di sini Prabowo-Sandiaga masih tertinggal. Bersamaan juga, setrum suara Demokrat, lemah sekali di provinsi ini. Nah, jika Demokrat dan AHY bertandem Sandiaga di pelbagai kota dan kabupaten provinsi ini, keuntungan elektoral sama-sama didapat keduanya. Di sini perpaduan pesona Sandiaga dan AHY saling melengkapi dan menguatkan satu sama lain. Artinya, geger dan ‘petjaah’.

Di massa Demokrat yang serba biru, kehadiran Sandiaga yang juga  senantiasa berseragam atasan biru, jadi melengkapi. Popularitas, elektabilitas yang ada pada Demokrat, AHY, dan para calegnya kini ditambah dan dilengkapi dengan pesona popularitas dan elektabilitas Sandiaga. Pesona mantan pengusaha sukses, good looking, keagamaannya yang menonjol, selama ini menjadikan Sandiaga magnet baru di mata emak-emak dan milenials.


Begitu pula sebaliknya di titik kunjungan Sandiaga Uno,  bergabunglah AHY. Jika ini yang terjadi, kedua pihak sama-sama mengail faedah. Kehadiran AHY jelas menambah bobot popularitas dan elektabilitas  Cawapres Sandiaga. Sebaliknya, di depan massanya Sandiaga, jelas popularitas dan elektabilitas AHY dan Demokrat diasumsikan menaik pula. Sama-sama untung.

Di mata massa, baik Sandiaga maupun AHY sama-sama mempunyai pesona kuat tersendiri. Apabila keduanya digabungkan dan dihadirkan dalam satu titik pertemuan, menurut massa akar rumput kepada saya, keduanya bakal saling menguatkan dan sama-sama mendapatkan manfaat politiknya.

Hal yang sama juga terjadi apabila SBY-Prabowo hadir bersama dalam satu titik kunjungan. Keduanya sama-sama legenda hidup jenderal. Tetapi, teknisnya, mungkin agak komplikasi dan rumit jika harus sepanggung.  Pasalnya, keduanya sama-sama-sama Ketum di partai masing-masing.  Tetapi, ini bisa diakali jika keduanya terjun di hari yang sama di beberapa kabupaten yang sama.

Komplikasi di atas tidak terjadi pada AHY-Sandi, karena Cawapres Sandiaga lebih merepresentasi figure independen  yang bisa diklaim milik bersama oleh PKS, PAN, Demokrat sekaligus. Lebih-lebih sejak empat bulan terakhir, Sandiaga tidak pernah luput sehari pun mengenakan baju, kaos, polo dan kemeja biru.  Sama dengan keseharian kader Demokrat, Biru.

Situasi sementara , tak bisa dipungkiri  petahana Jokowi masih teratas , walau dengan margin keunggulan kian menyempit. Empat bulan ke depan masih terlalu rentan bagi petahana, sebaliknya peluang membesar bagi  koalisi Oposisi. Reuni 212, dukungan terbuka dan meluas emak-emak dan milenial, menjadi mood ekstra  dan signifikan bagi Prabowo-Sandiaga. Kini, asumsinya, mood itu bakal ditambahi gerilya daerah-daerah SBY, AHY, Demokrat.  Atau efeknya tak jauh bedakah? Wallahualam..

*Ramadhan Pohan, Mahasiswa S-3 Fikom, UNPAD, Bandung, sedang menulis Disertasi

Foto: kompas

Related News

Comment (0)

Comment as: